Skip to main content

Sekolah Tunas Dharma

"SEKOLAH NASIONAL BERKARAKTER KEBANGSAAN"

Berita Kegiatan

Berita Kegiatan

SMP Tunas Dharma Hadirkan Psikolog Dinda Aisha di Acara Parenting tentang Pola Asuh Anak di Era Digital

Oleh

Sekolah Tunas Dharma

Diterbitkan 12 August 2026

Psikolog Dinda Aisha

SMP Tunas Dharma | Pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, SMP Tunas Dharma menggelar Parenting Pola Asuh Anak di Era Digital, dengan tema “Memahami Dinamika Emosi Remaja di Era Digital”, dengan menghadirkan pembicara dari akademisi kampus sekaligus psikolog, yakni Ibu Dinda Aisha, M.Psi., Psikolog. Psikolog Dinda, dalam aktifitas kesehariannya merupakan dosen tetap di Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang. Acara ini berlangsung di Aula Sekolah Tunas Dharma, yang dimulai pada Pukul 08:00 – 12:00 Wib. Adapun bidang keilmuan Psikolog Dinda selaku dosen, beliau ini memiliki eksprertasi atau keahlian di bidang psikologi perkembangan anak dan remaja.

Masa remaja merupakan fase terpenting dalam perkembangan usia manusia. Pada tahap ini, seseorang akan mengalami perubahan emosional, sosial, hingga pola berpikir yang dinamis. Perubahan terkadang cukup kompleks, karena hadirnya pengaruh dari teknologi digital yang hampir tidak pernah lepas dalam kehidupan sehari-hari manusia, khususnya anak dan remaja. Media sosial, permainan daring, komunikasi instan, hingga akses informasi tanpa batas membentuk cara remaja dalam berpikir dan memahami diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Perkembangan psikologi remaja di era digital tidak hanya menghadirkan tantangan saja, tetapi juga membuka peluang baru dalam proses belajar, membangun relasi sosial, dan mengembangkan potensi diri. Kondisi ini membuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar menjadi penting dalam membantu remaja menghadapi perubahan zaman tersebut secara sehat.

Itulah yang menajdi latar belakang latar belakang, mengapa SMP Tunas Dharma mengusung tema tentang pola asuh anak di era digital ini di dalam acara Parenting-nya bersama para orang tua/wali dari siswa/i SMP Tunas Dharma. Psikolog Dinda Aisha, dalam kesempatan tersebut memaparkan: “Remaja saat ini tumbuh di lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Segala macam informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik saja. Komunikasi, tidak lagi terbatas oleh jarak. Aktivitas sosial pun juga banyak berlangsung di ruang digital. Situasi tersebut memengaruhi perkembangan psikologis remaja, terutama dalam aspek emosional dan sosial. Banyak remaja menjadi lebih terbuka dalam mengekspresikan diri, tetapi sebagian lainnya justru mengalami tekanan mental akibat tuntutan gaya di media sosial. Standar kehidupan yang sering ditampilkan di internet dapat memicu rasa tidak percaya diri, kecemasan, bahkan perasaan tertinggal dari orang lain.

Paparan konten digital terus-menerus memengaruhi kemampuan konsentrasi anak. Tidak sedikit remaja yang merasa sulit fokus dalam belajar karena terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lain secara cepat, tapi tidak bisa memahami masalah secara tuntas. Kebiasaan tersebut perlahan membentuk pola pikir instan yang ingin memperoleh hasil tanpa sebuah daya, upaya dan proses. Meski demikian, teknologi digital juga bisa membantu remaja mengembangkan kreativitas dan kemampuan komunikasi. Banyak pelajar mampu menghasilkan karya, membangun komunitas positif, hingga mempelajari keterampilan baru melalui dunia digital. Nah, dalam konstek inilah memunculkan sebuah tantangan berupa masalah kesehatan mental yang sering kali terjadi pada anak dan remaja. Kesehatan mental menjadi isu yang sering dibicarakan olah para orang tua. Karena anak menghadapi tekanan akademik di sekolah, tuntutan sosial di liangkungan, dan penggunaan media digital yang berlebihan dapat meningkatkan risiko stres pada remaja”, papar Sarjana Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) dan Magister Psikologi Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Kepala SMP Tunas Dharma, Ibu Dewi Isabella Palma, S.Pd., M.Pd., seusai acara menagatkan: Banyak remaja mengalami kelelahan mental akibat pola hidup yang tidak seimbang. Waktu tidur berkurang, karena terlalu lama bermain gawai. Aktivitas fisik menurun, karena sebagian besar kegiatan dilakukan secara daring. Situasi itu sangat memengaruhi stabilitas emosi dan produktivitas sehari-hari. Jadi, remaja itu membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan emosional. Maka, kehadiran guru BK, konselor, psikolog maupun lingkungan pertemanan yang positif akan sangat membantu dalam proses perkembangan psikologis mereka. Kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental ini juga kami pahami di lingkungan SMP Tunas Dharma. Pembahasan mengenai pengelolaan emosi, pengendalian stres, hingga kemampuan komunikasi kini menjadi kebutuhan penting dalam proses pembelajaran, baik itu bagi para guru semua, tidak hanya untuk guru BK saja, dan yang penting juga untuk para orang tua/wali siswa SMP Tunas Dharma. Itulah mengapa, Parenting ini kami selenggarakan agar para guru kami dan para orang tua/wali siswa bisa mendapatkan wawasan yang utuh dari Psikolog yang kami hadirkan pada acara ini”, ungkap Sarjana Pendidikan dan Magister Pendidikan bidang Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Oleh

Sekolah Tunas Dharma

Diterbitkan 12 August 2026

Official Whatsapp

Hubungi kami via WhatsApp di bawah :

Official Instagram

Temukan Instagram kami di bawah ini :

Official Youtube

Temukan Youtube kami di bawah ini:

Youtube SMP Tunas Dharma

@